Setiap Hari, Sebanyak Tiga Kali Air Laut Akan Meminta Izin Kepada Allah SWT Untuk Lakukan Perkara Ini

BUMI dan alam semesta diciptakan Allah SWT dengan sangat menarik dan cantik dipandang mata. Tumbuh-tumbuhan menghijau dan langit biru memberikan pandangan yang menyegarkan. Ini membuktikan kekuasaan-Nya menciptakan segala isi langit dan bumi.

Namun sebahagian manusia tidak mengambil kesempatan daripada kurniaan dan penciptaan Allah SWT ini untuk mengabdikan diri kepada-Nya. Sekiranya kita memanfaatkan peluang itu sebaik-baiknya, kehidupan kita akan sentiasa diberkati dan diredai Tuhan.

Amnya, setiap kejadian sentiasa kita didedahkan kepada dua perkara yang paling asas iaitu berpunca dari aspek material atau fizikal dan satu lagi adalah dari aspek spiritual. Dalam aspek material atau fizikal, berlakunya fenomena alam boleh dijelaskan secara saintifik.

Manakala dari aspek spiritual sememangnya ia berkait rapat dengan Sang Pencipta yang merekabentuk sistem, mentadbir dan mengawal kejadian. Bolehkah manusia dengan segala akal sihatnya memfungsikan dirinya sebagai sebuah sistem amaran awal (early warning system)?

Sebuah sistem yang peka dan res­ponsif. Fenomena alam memang tidak boleh kita kawal. Tetapi memi­nimumkan risiko bencana menggunakan akal, apatah lagi kemajuan sains dan teknologi adalah sangat memungkinkan.

Dalam tausiyah Syekh Ali Jaber, ia menyebutkan ada sebuah hadist Qudsi yang menjelaskan bahwa air laut 3 kali minta izin sama Allah SWT untuk menghabiskan seluruh manusia di muka bumi ini. Tapi Allah SWT menjawab jangan dulu.

Menurut Syekh Ali Jaber, air laut minta sama Allah untuk menenggelamkan seluruh manusia sampai tiga kali sehari, alasannya air laut sudah sakit hati dengan perbuatan manusia.

Air laut sudah benar-benar kecewa terhadap manusia karena manusia banyak yang sengaja datang ke laut untuk melakukan berbagai macam maksiat. Air laut merasa sakit hati melihat tingkah manusia.

Allah SWT berfirman: “Tidak ada suatu musibah menimpa (seseorang), kecuali dengan izin Allah dan sesiapa beriman kepada Allah, nescaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (At-Taghabun: 11)

Ayat ini menyatakan setiap ujian dan musibah diturunkan kepada hamba hanya dengan ketentuan serta kekuasaan-Nya. Ia mempunyai hikmah yang perlu difikir dan dinilai setiap Mukmin. Justeru, segala bencana alam yang sering dilihat dan dipaparkan dalam media adalah ketetapan Allah SWT yang memilih siapa yang akan menerima musibah itu, tempat dan waktu. Apa yang pasti, ia mempunyai sebab tersurat dan tersirat yang perlu difikirkan oleh kita sebagai khalifah.

Bumi semakin hari semakin tua dan menunggu pengakhiran, iaitu kiamat. Malangnya, manusia langsung tidak menyedarinya apatah lagi unutk menjadikannya sebagai peringatan. Kita dapat lihat bagaimana aktiviti tidak sihat kepada alam sering dilakukan pihak tidak bertanggungjawab.

“Ya Allah izinkanlah saya menghabiskan mereka,” kata air laut.

Setiap Hari, Sebanyak Tiga Kali Air Laut Akan Meminta Izin Kepada Allah SWT Untuk Lakukan Perkara Ini

Tapi Allah SWT menjawab, “Jangan dulu, diantara mereka masih ada di antara hamba-Ku yang masih beriman.

Kadang kala Allah SWT mengizinkan air laut untuk menghabiskan manusia. Tapi Allah SWT memerintahkan kepada air laut untuk tidak menghabiskan semuanya. Agar sebagian jadi korban dan mereka yang selamat jadi sadar dan mau bertobat.

Peristiwa air laut menghabiskan seluruh umat manusia di muka bumi ini juga pernah terjadi pada zaman Nabi Nuh. Seluruh daratan ketika itu ditenggelamkan dan hanya umat Nabi Nuh saja yang naik kapal besar yang selamat dari bencana tersebut.

Allah SWT menenggelamkan seluruh umat manusia ketika itu karena mereka sudah banyak melakukan perbuatan dosa dan banyak merusak alam. Mereka tidak mau menyembah Allah SWT dan membangkang pada Nabi Nuh. Karena itulah Allah SWT memerintahkan air untuk menenggelamkan semua manusia kala itu.

Allahualam. Simpati kita semua kepada mangsa k0rban. Sebagai pedoman kita yang hidup, marilah kita ikuti ceramah mengenai musibah ini oleh pendakwah terkenal Indonesia, K.H Muhammad Arifin Ilham: BILA kami mahu menghancurkan suatu negeri, maka kami amanahkan kekuasaan, kekayaan kepada para pemimpin mereka, pemimpin negeri itu.

Tapi ternyata mereka mengkhianati Allah, mereka mengkhianati Kami, maka, terjadilah seperti kaum terdahulu – Kaum Ad, kaum Tsamud, kaum Luth, kaum Nuh – kami datangkan bencana demi bencana. Dengarkan dengan iman, sekarang bencana terjadi bukan lagi secara teguran, bukan lagi tempelengan —tapi tamparan yang sangat hebat.

Surah At-Taubah ayat 126: “Tidakkah mereka orang-orang munafik memperhatikan, Kami datangkan musibah hebat sekali, kemudian dua kali, dalam satu tahun, tapi mereka tetap tidak mahu mengambil pelajaran dan tidak pernah mahu bertaubat.” Ini teguran, ini peringatan, ini ujian bagi hamba-hamba Allah yang soleh solehah — kerana kita munafik.

Kita senang ibadah tapi berzina dibiarkan, kita berangkat haji tapi korupsi terus dilakukan. Allahuakbar di masjid, Allahuakbar di mushola, Allahuakbar di atas sejadah tapi di kantor (pejabat), di hotel, di lapangan… nafsu akbar — kelakuan kita munafik, ini yang mengundang bala bencana dari Allah SWT.

Dengarkan dengan iman, kemalangan-kemalangan terjadi, musibah-musibah terjadi, krisis demi krisis terjadi kerana kelakuan dosa keterlaluanmu kepada Allah.

Setiap berlakunya kejadian atau musibah, pada masa itu juga manusia baru tersedar akan ujian-ujian kehidupan yang mereka lalui. Bukan sedikit yang menitiskan air mata, sedih, marah, saling menya­lah dan memfitnah.

Setiap musibah dan ujian diturunkan perlu dijadikan iktibar dan jangan kita mempersoalkan mengapa Allah SWT memperlakukan sedemikian sedangkan kita mengetahui Dia berhak atas kekuasaannya sendiri. Ia peringatan kepada kita untuk mencapai nilai ketakwaan dan keimanan tinggi.

Hayati firman Allah SWT: “Katakanlah: Siapakah yang dapat melindungi kamu daripada (ketentuan) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu? Mereka itu tidak akan mendapatkan pelindung dan penolong selain Allah.” (Al-Ahzab : 17)

Oleh itu, perbanyakkan berdoa kepada Allah SWT agar ujian seperti gempa bumi, tsunami dan ribut taufan membuka hati kita untuk terus beriman. Jangan sesekali bergantung kepada perkara khurafat atau kepercayaan karut berkaitan bencana alam kerana ia boleh memesongkan akidah.

Sesungguhnya tiada yang lebih berkuasa dalam menentukan segala-galanya selain Allah SWT. Kita juga perlu berdoa agar mereka yang ditimpa ujian dan musibah ini diberikan perlindungan sebaiknya. Semoga semua mangsa yang masih hidup dan ahli keluarga mangsa diberikan kekuatan dan kecekalan hati untuk meneruskan kehidupan lebih baik pada masa akan datang.

Langit bumi punya Allah, hati keadaan semua punya Allah. Tidak ada kebetulan di muka bumi ini. Orang yang menyebut kebetulan orang yang tidak bertuhan. Teguran ini sudah hebat, wahai Wakil Rakyat. Teguran ini sudah hebat. Selamatkan negara kita. Allahuakbar!

Ternyata, sebelum murka, air laut meminta izin kepada Allah SWT

Setiap musibah menyedarkan kita akan pentingnya bekerjasama, muhasabah diri dan bertanggungjawab, menghargai dan belajar memaafkan, jangan takut akan kematian, takutlah kepada Tuhan.

Moga bermanfaat